Waspada! Ini Sembilan Bencana Yang Berpotensi Terjadi di Bantul

Pengurus dan anggota Bhayangkari Cabang Bantul mengikuti sarasehan dalam rangka Sosialisasi Mitigasi Bencana Kabupaten Bantul Tahun 2019,  “Srikandi Siaga Bencana”, bertempat di Rumah Makan Parangtritis Sewon Bantul, Rabu (27/03/2019).

Acara ini diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul dan dibuka oleh Sekretaris Umum BPBD Bantul Muhammad Barid.

“BPBD Kabupaten Bantul akan merubah paradigma bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab kita bersama, mulai dari kita sosialisasi ke desa-desa, dan juga mengadakan acara semacam ini, yaitu dengan mengundang ibu-ibu  Bhayangkari Cabang Bantul untuk ikut serta dalam penanggulangan bencana,” kata Muhammad Barid saat membuka sosialisasi.

Ditambahkan, Kabupaten Bantul adalah salah satu kabupaten di Yogyakarta yang cukup rawan terjadi bencana. Sembilan jenis bencana yang berpotensi terjadi di antaranya adalah gempa bumi, tsunami, tanah longsor, kebakaran, kekeringan, wabah penyakit, banjir, cuaca ekstrim, dan abrasi. Oleh karena itu, BPBD Bantul, mendorong agar masyarakat memiliki sikap sigap bencana. “Sehingga masyarakat dapat bersiaga dalam menghadapi setiap potensi bencana yang terjadi,” ujarnya.

Maulida Iffani, petugas BPBD Bantul selaku narasumber menjelaskan Pemerintah Kabupaten Bantul telah meluncurkan program kesiapsiagaan bencana berupa “Siap, Tanggap dan Tangguh” atau Si Tatang yang dimulai dari keluarga di tengah masyarakat setempat. “Seluruh keluarga kita di Bantul ini harus menjadi keluarga Si Tatang yang Siap Tanggap dan Tangguh menghadapi berbagai macam kemungkinan bencana yang berpotensi terjadi di Bantul,” kata Maulida.

Dijelaskan, di dalam Si Tatang ini keluarga harus Siap dalam arti salah satu anggota keluarga memiliki pengetahuan tentang penanggulangan bencana dan keterampilan pertolongan pertama.

“Semua anggota keluarga mengetahui jalur evakuasi di rumah, membuat rambu-rambu arah evakuasi di dalam rumah dan memiliki SOP Tanggap Darurat di lingkup keluarga, dan membuat kesepakatan siapa berbuat apa dalam kondisi darurat,” katanya.

Sedangkan Tanggap (saat terjadi bencana) adalah salah satu anggota keluarga mampu memberikan instruksi untuk berlindung dalam kondisi darurat dan mengenali tempat aman di dalam rumah serta mampu melakukan evakuasi.

“Sedangkan Tangguh yaitu menjaga dan mengembangkan budaya gotong royong, melaporkan kejadian dan dampak kejadian melalui pemerintah setempat seperti RT, kepala dusun, dan kooperatif dan jujur dalam pendataan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Seksi Organisasi Bhayangkari Cabang Bantul, Ny. Sita Donny mewakili Ketua Cabang Bhayangkari Bantul mengatakan, melalui sosialisasi ini diharapakan dapat memberikan pembekalan kepada ibu-ibu Bhayangkari Polres Bantul untuk mampu menjadi tutor bagi keluarga dan lingkungan sekitar dalam menyiapkan diri dan keluarga menghadapi bencana.

Dikatakan, tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada peserta tentang potensi bencana di Indonesia khususnya potensi bencana di wilayah Bantul. Harapan kedepanya para peserta sosialisasi ini nantinya akan bertindak sebagai fasilitator, untuk menularkan/mensosialisasikan pentingnya kesiapsiagaan dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya

“Pembekalan dan pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana bagi ibu-ibu Bhayangkari ini sangat penting, untuk membangun budaya sadar bencana, pentingnya membangun kesiapsiagaan dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitarnya,” tandasnya. (Humas Polres Bantul)

Shares
error: Content is protected !!